Sunday, January 4, 2009

Pande Tamblingan 2

Pande Tamblingan

Bahwa wilayah sekitar Danau Tamblingan memang merupakan wilayah komunitas Pande pada jaman Bali Kuno, telah lama dikenal oleh para arkeologi dan pakar sejarah Bali Kuno. Misalnya sarjana yang sangat terkenal P.V. Van Stein Callenfels sudah pada tahun 1925 menerbitkan hasil penelitiannya mengenai Pande Tamblingan yang secara khusus dibahas pada bukunya yang berjudul "Epigrafi Balica".

Banyak peninggalan berupa prabot untuk memande dan kerak-kerak besi yang diketemukan berserakan di kawasan Tamblingan yang membuktikan bahwa kawasan itu adalah bekas pemukiman Pande pada jaman Bali Kuno. Banyaknya palungan pendingin yang berserakan dikawasan itu, makin memperkuat bukti bahwa kawaasan itu adalah pusat pembuatan senjata seperti keris, tombak, alat-alat kesenian, gamelan, alat-alat pertanian, alat-alat dapur dan sarana-sarana untuk keperluan upacara agama Hindu.

Di kawasan danau Bratan juga banyak diketemukan peninggalan berupa prabot memande, seperti palungan pendingin dan pengububan serta alat-alat memande lainnya. Penemuan itu sekarang disimpan dan dikeramatkan di Pura Bratan, di tepi danau Bratan.

Oleh karena itu tidaklah terlalu mengherankan adanya penemuan 16 bilah prasasti di kawasan Tamblingan pada tahun 2002 yang lalu. Kemungkinan besar masih banyak peninggalan-peninggalan lainnya yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan oleh para Pande, dengan menanamnya dikedalaman tertentu atau ditenggelamkan ke dalam danau Tamblingan atau disembunyikan di tempat yang sangat sulit ditemukan oleh lawan. Prasasti Langgahan, satu-satunya prasasti dari Raja Asta Sura Ratna bumi Banten pada jaman dulu juga disembunyikan oleh pengemong pura dengan cara menanamnya dalam-dalam dibawah tanah agar selamat dari penjarahan atau penghancuran dari tentara Majapahit.

Timbul pertanyaan mengapa Pande Tamblingan perlu menyembunyikan prasasti-prasasti itu? Apakah tujuannya Dapat diduga tujuannya adalah agar prasasti-prasasti dan benda-benda lainnya selamat dan tidak dijarah atau dimusnahkan oleh musuh. Mereka mengharap kelak apabila situasi kondusif lagi dan mereka bisa kembali dari pengungsiannya, mereka dapat mencari lagi alat-alat memande yang mereka sembunyikan. Dan siapakah yang dimaksud dengan musuh itu?.

Sebelum menjawab pertanyaan itu marilah kita bahas terlebih dahulu mengenai penemuan 16 bilah prasasti di Tamblingan, karena jawaban atas berbagai pertanyaan diatas tersirat dalam prasasti yang ditemukan. Pembahasannya pada Pande Tamblingan berikutnya.

Sumber :
PANDE TAMBLINGAN
Tirtha Yatra Napak Tilas Pande Jaman Bali Kuno
Sebagai bekal peserta tirtha yatra ke Situs Pande Tamblingan tanggal 16 Agustus 2004
Oleh:
Made Kembar Kerepun (alm)

No comments:

Post a Comment